Sabtu, 07 April 2012

IBU



Seorang wanita telah dilengkapi oleh Tuhan dengan keindahan jiwa dan raga adalah suatu kebenaran, yang sekaligus nyata dan maya, yang hanya bisa kita fahami dengan cinta kasih, dan hanya bisa kita sentuh dengan kebajikan.
Seperti itulah keindahan yang selalu terpancar dari cinta seorang ibu. Cinta yang tulus dan tak pernah menyakiti. Dia selalu memberi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.

“karena sungguh tidak ada kasih sayang yang abadi dan tulus selain kasih sayang seorang ibu yang akan tetap sama sampai akhir nanti”

Seperti kebanyakan orang di dunia ini yang selalu ingin bahagia menikmati cinta dari orang tuanya secara utuh. Ya seperti itu pulalah yang menjadi harapanku. Aku baru berumur 2 bulan saat orang tuaku memutuskan menitipkanku pada kakek dan nenekku. Bukan karena mereka tidak menyukaiku atau karena tidak menginginkan keberadaanku, terlebih karena mereka harus menyelesaikan studi mereka, Orang tuaku memutuskan menikah saat mereka masih berada di bangku kuliah. Hem, menikah usia muda.

Tidak ada yang aneh sebelumnya karena semua terlihat biasa saja. Aku pun tidak merasa ada yang berbeda dalam hidupku karena tidak sedikitpun aku kekurangan cinta mereka. Justru aku beruntung karena aku seperti mendapatkan dua orang tua sekaligus. Aku dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sangat disiplin. Kakek yang seorang kepala sekolah selalu menerapkan disiplin padaku sejak kecil, dia mengajarkan banyak hal padaku, tata krama harus selalu terjaga meskipun aku masih kecil. Kakek dan nenekku sudah serasa orang tua kandungku sendiri. Cinta dan kasih sayang yang mereka berikan sungguh luar biasa. Aku tumbuh dengan kasih sayang mereka, meskipun terasa kurang sempurna tanpa kasih sayang yang utuh dari orang tua kandungku. Tidak, mereka tetap memberikan kasih sayang mereka meski jarak memisahkan kita, setidaknya aku tahu cinta mereka selalu ada untukku.

Semuanya berubah saat kakek yang aku sayangi meninggal dunia. Aku benar-benar kehilangan sosok seorang ayah yang sangat bijaksana, tegas dan penyayang. Dia sosok sederhana yang selalu mengajarkan untuk selalu bersikap rendah diri kepada siapapun. Taukah kalian apa yang dia sukai, dia sangat suka pisang bakar. Setiap pagi selalu meminta nenek untuk membuatkanya pisang bakar, sungguh makanan yang sangat sederhana. Aku kehilangan sosok ayah, guru dan teman bermainku, semuanya kosong semenjak itu. Tidak ada yang membentakku saat aku melakukan kesalahan, tidak ada yang mengajariku dan menemaniku belajar setiap hari dan tidak ada lagi yang menemaniku menghabiskan waktu liburku dirumah. Seperti itu pulalah yang dirasakan nenekku, gurat kesedihan selalu nampak diwajahnya yang teduh. Dia selalu meneteskan air mata setiap kali mengenang hari-hari saat mereka masih bersama.

Hidup harus terus berjalan, aku menjalani hari-hariku dengan nenek dan tanteku. Merekalah temanku dan keluarga yang selalu ada untukku. Entah apa yang membuatku merasa sangat berbeda dengan anak yang lain. Aku seperti dituntut untuk berfikir dewasa sebelum waktunya. Segala sesuatu harus bisa aku lakukan sendiri, seperti itulah orang tuaku mendidikku. Mereka membiasakan aku untuk hidup mandiri. Terkesan membosankan tapi aku suka dengan cara mereka mencintaiku.

Sampai pada akhirnya aku merasa ada yang kurang dalam hidupku. Iya, aku merasa sangat dan ingin tinggal bersama orang tua kandungku seperti orang lain. Taukah kalian betapa sakit hatiku saat aku melihat anak seusiaku bisa bercanda dan menghabiskan waktu dengan orang tua mereka. Mereka bisa setiap saat bercerita,bercengkrama dan berbagi segala sesuatu dengan orang tua mereka.
“nenek, kapan ibu datang? Tanyaku pada nenek.
“minggu ini pasti ibu dan ayah datang, kenapa sayang?”
“aku rindu mereka nenek, aku ingin bertemu mereka segera.” Ucapku sambil menangis.
“jangan menangis sayang, mereka pasti akan datang.” Kata nenek sambil memelukku.

 Begitulah selalu nenek menenangkanku, dia selalu bisa membuatku merasa nyaman saat berada didekatnya, apapun yang aku sukai selalu dia berikan tanpa terkecuali.Cintanya sungguh mampu menutupi semua kekosongan yang aku rasakan, aku sangat menyayanginya. Suatu hari aku marah karena orang tuaku nyatanya tak kunjung datang menengokku.
“nenek bohong padaku, mereka tidak datang kan”. Ucapku marah pada nenek.
“mereka mungkin masih sibuk, mereka pasti datang”.
“sibuk apa, mereka ingkar janji”.
“percayalah mereka pasti datang, apa pernah mereka ingkar janji”.
“mereka tidak sayang padaku, aku benci mereka. Sebenarnya mereka orang tuaku apa bukan? Kata-kata itu dengan lancar keluar dari mulutku. Dan seketika membuat nenek marah. Itulah kali pertama nenek marah kepadaku. Untuk pertama kalinya aku takut menatap matanya.
“jangan pernah mengatakan seperti itu, mereka sangat menyayangimu. Tega kamu mengatakan itu pada mereka”. Bentak nenek padaku. Banyak kata yang terucap dari mulut nenek saat itu, aku ketakutan dan menagis, itu pulalah untuk pertama kalinya nenek membiarkanku menagis sendiri dengan semua penyesalanku.

Aku paham apa yang aku lakukan sangat keterlaluan. Tidak seharusnya kata-kata seperti itu terucap dari mulutku. Hanya karena ingin mendapat perhatian dari orang tuaku, aku bersikap sangat kekanak-kanakan. Aku sungguh menyesal dan tidak ingin mengulanginya lagi.

Aku telah beranjak dewasa, banyak hal yang pelajari dari hidup, aku tumbuh menjadi gadis yang mandiri, seperti itulah aku menatap diriku sendiri. Aku ingat kata-kata ibu, janganlah hidup bergantung dari orang lain, apa yang bisa kau lakukan sendiri, lakukanlah. Begitulah pesan yang selalu disampaikan ibuku padaku. Orang tuaku selalu rutin mengunjungiku setiap akhir pekan. Mereka selalu berusaha ada untuk menghabiskan waktu libur denganku. Setiap pulang ibu selalu membawakanku oleh-oleh. Ibu selalu memberikan apa yang aku inginkan. Aku senang tapi mengapa selalu ada yang kurang disana. Entah perasaan seperti apa yang aku rasakan, tapi sudahlah aku tidak begitu peduli dengan semua itu. Hal yang selalu membuat aku senang adalah ibu dan ayahku tidak pernah lupa mengucapkan selamat dan do’a setiap ulang tahunku.

“selamat ulang tahun sayang, maaf kami tidak bisa pulang.”
“terima kasih ibu, tidak apa-apa”.
“semoga kamu menjadi anak yang solehah, sehat selau dan apa yang kamu cita-citakan dapat tercapai”.
“amin, ucapku sambil tersenyum bahagia”.
Itulah hal yang menjadi kado ulang tahunku setiap tahun. Ibu tidak pernah sekalipun lupa dengan hari penting itu. Bahkan saat aku akan melaksanakan ujian akhir sekolah ibu dan ayah rela datang jauh-jauh meskipun mereka sibuk, mereka selalu meluangkan waktu untukku meski hanya sekedar untuk menanyakan kabar.

Sekarang semuanya berbeda, aku tidak lagi tinggal dengan nenekku. Aku tinggal dengan orang tuaku. Keputusan yang sangat berat bagiku karena harus tinggal jauh dari nenekku. Aku sulit untuk memilih, tapi aku harus melakukanya.
“nenek, aku melanjutkan sekolah disana ya?”
“kenapa tidak disini saja?” pinta nenek.
“aku ingin suasana baru nek, aku ingin belajar mandiri”.
“nenek sama siapa kalau kamu pergi?” kata nenek sambil menangis.
“aku janji akan sering datang kemari nek, aku tidak pernah bisa jauh dari nenek.”
Hatiku sakit melihatnya menangis, sangat sakit. Aku lemah saat melihat air mata keluar dari sudut matanya yang indah. Dia ibuku, dia yang selama ini ada untukku. Dia tau siapa aku, selama ini aku tumbuh dengan cintanya yang begitu tulus. Aku akan menepati janjiku.

Berada dalam satu rumah dengan orang tuaku adalah hal yang sangat membahagiakan dalam hidupku. Inilah hal yang aku inginkan selama hampir 20 tahun. Aku nyaris tidak dapat berkata apa-apa saat semua yang aku impikan menjadi nyata. Setiap saat aku bisa berkumpul dengan orang-orang yang aku sayang. Seandainya nenekku ada disini juga, semuanya akan terasa lengkap.

Hariku berjalan normal, tidak ada yang berbeda dengan aktivitasku. Hampir setiap hari kuhabiskan waktuku dengan bercanda dan bercengkrama dengan orang tuaku. Aku tidak begitu dekat dengan ayah, akan tetapi dia adalah sosok yang hebat, dia bisa menjadi teman, sahabat dan sekaligus pacar bagiku. Kami selalu pergi bersama tapi anehnya kami tidak merasa dekat satu dengan yang lainya.

Ibu, bagaimana sosok itu akan digambarkan karena yaris tidak ada satu katapun yang mampu menggambarkan sosoknya yang begitu sempurna. Ibu bagaikan kado terindah dari Tuhan untukku, kasih dan cintanya yang sangat luar biasa mampu membuat siapa saja takhluk dihadapanya. Cintanya adalah cinta yang sempurna karena cintanya tulus dan tidak pernah sekalipun menyakiti. Layaknya hujan yang mampu menyejukkan hati saat kedatanganya, mungkin begitulah kedatanganya dapat diibaratkan. Aku panas dan dia hujan, ibu selalu mampu mengendalikanku dengan sangat baik tanpa sedikitpun menyakitiku.
Pernah suatu ketika aku dengan sengaja membuatnya kecewa, aku tidak mendengarkan apa yang dia katakan. Aku merasa tidak mendapat kebebasan untuk melakukan hal-hal yang aku inginkan. Mereka terlalu mengendalikanku dan aku merasa tidak suka. Aku ingin bebas dan melakukan apapun yang aku suka. Tanpa terkecuali.

Aku berani membohonginya dan kau tau apa yang terjadi? akibatnya semua hancur berantakan. Pernah aku menyangka ada sebuah cinta yang indah selain cintanya, cinta yang mampu membuat aku berpaling dari cintanya, cinta yang membuat aku menyakitinya, cinta yang membuat aku membohonginya dan cinta yang akhirnya membuatku sakit. Seperti itulah cinta yang dulu pernah aku agungkan. Dan luar biasanya ibu tidak sedikitpun marah padaku, sekalipun aku telah membuat luka dihatinya yang tulus. Aku menangis dalam penyesalan, penyesalan yang teramat sangat menyakitkan bahkan lebih menyakitkan dari sakit apapun di dunia ini. Ya, aku telah menyakitinya dan itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Ibu sangat luar biasa, dengan beralaskan cinta yang telah membuatku menyakitinya, tapi dengan cintanya ibu justru menyembuhkan luka itu. Hatiku benar-benar sakit, bagaikan ditusuk sembilu melihat semua itu. Aku tidak pantas mendapatkan cintanya setelah apa yang aku lakukan.
“Nak, sudahlah jangan menangis”. Ucap ibu sembari memelukku.
“Maaf ibu, aku telah berbohong. Aku tidak menuruti perkataanmu”.
“Tidak apa-apa, itu adalah pembelajaran hidup. Ibu tidak marah”.

Semenjak itu aku tidak pernah berniat sekalipun untuk membohonginya. Apapun yang aku lakukan selalu atas persetujuanya. Do’anya yang membuat aku menjadi pribadi yang kuat dan semua perkataanya adalah motivasi untukku, bahkan saat aku berada dalam titik terendah dalam hidupku, do’a dan kata-katanya mampu membuat aku bangkit lagi. Sekarang aku tau kenapa anak terlahir dari rahim seorang ibu, karena Allah menciptakan ruang luas dibawah hatinya untuk tempat bernaung anak-anaknya. Ibuku yang sangat hebat terlahir dari seorang ibu yang hebat pula. Aku merasakan cinta dari dua ibu yang sungguh luar biasa. Merekalah malaikat hatiku yang senantiasa menjagaku dalam setiap do’anya. Hidup itu mewah tidak sederhana, tapi yang perlu kau lakukan adalah bersikap sederhana dalam hidup. Itulah hal yang selalu diajarkan oleh mereka “IBU”


Kasih ibu mungkin tidak akan sempurna bagi hidup kita. Tapi kasih ibu adalah kasih tanpa balasan yang tidak akan pernah tergantikan dengan kesempurnaan hidup apapun di dunia ini.dan jika seorang ibu mencintaimu seperti anak kecil, itu bukan karena dia tidak menganggapmu dewasa, terlebih karena cintanya yang tidak pernah berubah terhadapmu.

…2 april 2012..Monday,11:08
By:  vanyes purple (ve)


0 komentar:

Posting Komentar