Seorang wanita telah dilengkapi oleh Tuhan dengan keindahan jiwa dan raga adalah suatu kebenaran, yang sekaligus nyata dan maya, yang hanya bisa kita fahami dengan cinta kasih, dan hanya bisa kita sentuh dengan kebajikan.
Seperti itulah keindahan yang selalu terpancar dari cinta
seorang ibu. Cinta yang tulus dan tak pernah menyakiti. Dia selalu memberi apa
yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.
“karena sungguh tidak ada kasih sayang yang abadi dan tulus
selain kasih sayang seorang ibu yang akan tetap sama sampai akhir nanti”
Seperti kebanyakan orang di dunia ini yang selalu ingin
bahagia menikmati cinta dari orang tuanya secara utuh. Ya seperti itu pulalah yang
menjadi harapanku. Aku baru berumur 2 bulan saat orang tuaku memutuskan menitipkanku
pada kakek dan nenekku. Bukan karena mereka tidak menyukaiku atau karena tidak
menginginkan keberadaanku, terlebih karena mereka harus menyelesaikan studi
mereka, Orang tuaku memutuskan menikah saat mereka masih berada di bangku
kuliah. Hem, menikah usia muda.
Tidak ada yang aneh sebelumnya karena semua terlihat biasa
saja. Aku pun tidak merasa ada yang berbeda dalam hidupku karena tidak
sedikitpun aku kekurangan cinta mereka. Justru aku beruntung karena aku seperti
mendapatkan dua orang tua sekaligus. Aku dibesarkan dalam lingkungan keluarga
yang sangat disiplin. Kakek yang seorang kepala sekolah selalu menerapkan
disiplin padaku sejak kecil, dia mengajarkan banyak hal padaku, tata krama
harus selalu terjaga meskipun aku masih kecil. Kakek dan nenekku sudah serasa
orang tua kandungku sendiri. Cinta dan kasih sayang yang mereka berikan sungguh
luar biasa. Aku tumbuh dengan kasih sayang mereka, meskipun terasa kurang
sempurna tanpa kasih sayang yang utuh dari orang tua kandungku. Tidak, mereka
tetap memberikan kasih sayang mereka meski jarak memisahkan kita, setidaknya
aku tahu cinta mereka selalu ada untukku.
Semuanya berubah saat kakek yang aku sayangi meninggal
dunia. Aku benar-benar kehilangan sosok seorang ayah yang sangat bijaksana,
tegas dan penyayang. Dia sosok sederhana yang selalu mengajarkan untuk selalu
bersikap rendah diri kepada siapapun. Taukah kalian apa yang dia sukai, dia
sangat suka pisang bakar. Setiap pagi selalu meminta nenek untuk membuatkanya
pisang bakar, sungguh makanan yang sangat sederhana. Aku kehilangan sosok ayah,
guru dan teman bermainku, semuanya kosong semenjak itu. Tidak ada yang
membentakku saat aku melakukan kesalahan, tidak ada yang mengajariku dan
menemaniku belajar setiap hari dan tidak ada lagi yang menemaniku menghabiskan
waktu liburku dirumah. Seperti itu pulalah yang dirasakan nenekku, gurat
kesedihan selalu nampak diwajahnya yang teduh. Dia selalu meneteskan air mata
setiap kali mengenang hari-hari saat mereka masih bersama.
Hidup harus terus berjalan, aku menjalani hari-hariku dengan
nenek dan tanteku. Merekalah temanku dan keluarga yang selalu ada untukku.
Entah apa yang membuatku merasa sangat berbeda dengan anak yang lain. Aku
seperti dituntut untuk berfikir dewasa sebelum waktunya. Segala sesuatu harus
bisa aku lakukan sendiri, seperti itulah orang tuaku mendidikku. Mereka
membiasakan aku untuk hidup mandiri. Terkesan membosankan tapi aku suka dengan
cara mereka mencintaiku.
Sampai pada akhirnya aku merasa ada yang kurang dalam
hidupku. Iya, aku merasa sangat dan ingin tinggal bersama orang tua kandungku
seperti orang lain. Taukah kalian betapa sakit hatiku saat aku melihat anak
seusiaku bisa bercanda dan menghabiskan waktu dengan orang tua mereka. Mereka
bisa setiap saat bercerita,bercengkrama dan berbagi segala sesuatu dengan orang
tua mereka.
“nenek, kapan ibu datang? Tanyaku pada nenek.
“minggu ini pasti ibu dan ayah datang, kenapa sayang?”
“aku rindu mereka nenek, aku ingin bertemu mereka segera.”
Ucapku sambil menangis.
“jangan menangis sayang, mereka pasti akan datang.” Kata
nenek sambil memelukku.
Begitulah selalu
nenek menenangkanku, dia selalu bisa membuatku merasa nyaman saat berada
didekatnya, apapun yang aku sukai selalu dia berikan tanpa terkecuali.Cintanya
sungguh mampu menutupi semua kekosongan yang aku rasakan, aku sangat
menyayanginya. Suatu hari aku marah karena orang tuaku nyatanya tak kunjung
datang menengokku.
“nenek bohong padaku, mereka tidak datang kan”. Ucapku marah
pada nenek.
“mereka mungkin masih sibuk, mereka pasti datang”.
“sibuk apa, mereka ingkar janji”.
“percayalah mereka pasti datang, apa pernah mereka ingkar
janji”.
“mereka tidak sayang padaku, aku benci mereka. Sebenarnya
mereka orang tuaku apa bukan? Kata-kata itu dengan lancar keluar dari mulutku.
Dan seketika membuat nenek marah. Itulah kali pertama nenek marah kepadaku.
Untuk pertama kalinya aku takut menatap matanya.
“jangan pernah mengatakan seperti itu, mereka sangat
menyayangimu. Tega kamu mengatakan itu pada mereka”. Bentak nenek padaku.
Banyak kata yang terucap dari mulut nenek saat itu, aku ketakutan dan menagis, itu pulalah untuk pertama kalinya nenek membiarkanku menagis sendiri dengan
semua penyesalanku.
Aku paham apa yang aku lakukan sangat keterlaluan. Tidak
seharusnya kata-kata seperti itu terucap dari mulutku. Hanya karena ingin
mendapat perhatian dari orang tuaku, aku bersikap sangat kekanak-kanakan. Aku
sungguh menyesal dan tidak ingin mengulanginya lagi.
Aku telah beranjak dewasa, banyak hal yang pelajari dari
hidup, aku tumbuh menjadi gadis yang mandiri, seperti itulah aku menatap diriku
sendiri. Aku ingat kata-kata ibu, janganlah hidup bergantung dari orang lain, apa
yang bisa kau lakukan sendiri, lakukanlah. Begitulah pesan yang selalu
disampaikan ibuku padaku. Orang tuaku selalu rutin mengunjungiku setiap akhir pekan.
Mereka selalu berusaha ada untuk menghabiskan waktu libur denganku. Setiap
pulang ibu selalu membawakanku oleh-oleh. Ibu selalu memberikan apa yang aku
inginkan. Aku senang tapi mengapa selalu ada yang kurang disana. Entah perasaan
seperti apa yang aku rasakan, tapi sudahlah aku tidak begitu peduli dengan
semua itu. Hal yang selalu membuat aku senang adalah ibu dan ayahku tidak
pernah lupa mengucapkan selamat dan do’a setiap ulang tahunku.
“selamat ulang tahun sayang, maaf kami tidak bisa pulang.”
“terima kasih ibu, tidak apa-apa”.
“semoga kamu menjadi anak yang solehah, sehat selau dan apa
yang kamu cita-citakan dapat tercapai”.
“amin, ucapku sambil tersenyum bahagia”.
Itulah hal yang menjadi kado ulang tahunku setiap tahun. Ibu
tidak pernah sekalipun lupa dengan hari penting itu. Bahkan saat aku akan
melaksanakan ujian akhir sekolah ibu dan ayah rela datang jauh-jauh meskipun
mereka sibuk, mereka selalu meluangkan waktu untukku meski hanya sekedar untuk
menanyakan kabar.
Sekarang semuanya berbeda, aku tidak lagi tinggal dengan
nenekku. Aku tinggal dengan orang tuaku. Keputusan yang sangat berat bagiku
karena harus tinggal jauh dari nenekku. Aku sulit untuk memilih, tapi aku harus
melakukanya.
“nenek, aku melanjutkan sekolah disana ya?”
“kenapa tidak disini saja?” pinta nenek.
“aku ingin suasana baru nek, aku ingin belajar mandiri”.
“nenek sama siapa kalau kamu pergi?” kata nenek sambil
menangis.
“aku janji akan sering datang kemari nek, aku tidak pernah
bisa jauh dari nenek.”
Hatiku sakit melihatnya menangis, sangat sakit. Aku lemah
saat melihat air mata keluar dari sudut matanya yang indah. Dia ibuku, dia yang
selama ini ada untukku. Dia tau siapa aku, selama ini aku tumbuh dengan
cintanya yang begitu tulus. Aku akan menepati janjiku.
Berada dalam satu rumah dengan orang tuaku adalah hal yang
sangat membahagiakan dalam hidupku. Inilah hal yang aku inginkan selama hampir
20 tahun. Aku nyaris tidak dapat berkata apa-apa saat semua yang aku impikan
menjadi nyata. Setiap saat aku bisa berkumpul dengan orang-orang yang aku
sayang. Seandainya nenekku ada disini juga, semuanya akan terasa lengkap.
Hariku berjalan normal, tidak ada yang berbeda dengan
aktivitasku. Hampir setiap hari kuhabiskan waktuku dengan bercanda dan
bercengkrama dengan orang tuaku. Aku tidak begitu dekat dengan ayah, akan
tetapi dia adalah sosok yang hebat, dia bisa menjadi teman, sahabat dan
sekaligus pacar bagiku. Kami selalu pergi bersama tapi anehnya kami tidak
merasa dekat satu dengan yang lainya.
Ibu, bagaimana sosok itu akan digambarkan karena yaris tidak ada
satu katapun yang mampu menggambarkan sosoknya yang begitu sempurna. Ibu
bagaikan kado terindah dari Tuhan untukku, kasih dan cintanya yang sangat luar
biasa mampu membuat siapa saja takhluk dihadapanya. Cintanya adalah cinta yang
sempurna karena cintanya tulus dan tidak pernah sekalipun menyakiti. Layaknya
hujan yang mampu menyejukkan hati saat kedatanganya, mungkin begitulah
kedatanganya dapat diibaratkan. Aku panas dan dia hujan, ibu selalu mampu
mengendalikanku dengan sangat baik tanpa sedikitpun menyakitiku.
Pernah suatu ketika aku dengan sengaja membuatnya kecewa, aku tidak mendengarkan apa yang dia katakan. Aku merasa tidak mendapat
kebebasan untuk melakukan hal-hal yang aku inginkan. Mereka terlalu
mengendalikanku dan aku merasa tidak suka. Aku ingin bebas dan melakukan apapun
yang aku suka. Tanpa terkecuali.
Aku berani membohonginya dan kau tau apa yang terjadi? akibatnya
semua hancur berantakan. Pernah aku menyangka ada sebuah cinta yang indah
selain cintanya, cinta yang mampu membuat aku berpaling dari cintanya, cinta
yang membuat aku menyakitinya, cinta yang membuat aku membohonginya dan cinta
yang akhirnya membuatku sakit. Seperti itulah cinta yang dulu pernah aku
agungkan. Dan luar biasanya ibu tidak sedikitpun marah padaku, sekalipun aku
telah membuat luka dihatinya yang tulus. Aku menangis dalam penyesalan,
penyesalan yang teramat sangat menyakitkan bahkan lebih menyakitkan dari sakit
apapun di dunia ini. Ya, aku telah menyakitinya dan itu adalah kesalahan
terbesar dalam hidupku. Ibu sangat luar biasa, dengan beralaskan cinta yang telah
membuatku menyakitinya, tapi dengan cintanya ibu justru menyembuhkan luka itu.
Hatiku benar-benar sakit, bagaikan ditusuk sembilu melihat semua itu. Aku tidak
pantas mendapatkan cintanya setelah apa yang aku lakukan.
“Nak, sudahlah jangan menangis”. Ucap ibu sembari memelukku.
“Maaf ibu, aku telah berbohong. Aku tidak menuruti
perkataanmu”.
“Tidak apa-apa, itu adalah pembelajaran hidup. Ibu tidak
marah”.
Semenjak itu aku tidak pernah berniat sekalipun untuk
membohonginya. Apapun yang aku lakukan selalu atas persetujuanya. Do’anya yang
membuat aku menjadi pribadi yang kuat dan semua perkataanya adalah motivasi
untukku, bahkan saat aku berada dalam titik terendah dalam hidupku, do’a dan
kata-katanya mampu membuat aku bangkit lagi. Sekarang aku tau kenapa anak
terlahir dari rahim seorang ibu, karena Allah menciptakan ruang luas dibawah
hatinya untuk tempat bernaung anak-anaknya. Ibuku yang sangat hebat terlahir
dari seorang ibu yang hebat pula. Aku merasakan cinta dari dua ibu yang sungguh
luar biasa. Merekalah malaikat hatiku yang senantiasa menjagaku dalam setiap
do’anya. Hidup itu mewah tidak sederhana, tapi yang perlu kau lakukan adalah
bersikap sederhana dalam hidup. Itulah hal yang selalu diajarkan oleh mereka
“IBU”
Kasih ibu mungkin tidak akan sempurna bagi
hidup kita. Tapi kasih ibu adalah kasih tanpa balasan yang tidak akan pernah
tergantikan dengan kesempurnaan hidup apapun di dunia ini.dan jika seorang ibu
mencintaimu seperti anak kecil, itu bukan karena dia tidak menganggapmu dewasa,
terlebih karena cintanya yang tidak pernah berubah terhadapmu.
…2 april 2012..Monday,11:08
By:
vanyes purple (ve)

0 komentar:
Posting Komentar